Dear the 26 year old me

Halo, ini adalah dirimu ketika masih berusia 20 tahun. Bagaimana suasana di sana? Tahun 2012 sudah pasti terlewati, bagaimana rasanya ketika melewatinya? Apakah benar-benar terjadi bencana besar-besaran ataukah hanya gosip? Kalau gosip belaka pasti menyebalkan, ya?

Ngomong-ngomong, kau pasti bertanya-tanya kenapa aku mengirim ini padamu. Yah, kita sendiri tahulah apa yang terjadi di masa lalu kita. Sampai sekarang aku tak benar-benar yakin apakah yang aku jumpai dalam mimpi itu adalah dewa kematian yang sesungguhnya atau bukan. Aku tak tahu bagaimana harus menganggap mimpi itu sebagai bunga tidur anak-anak atau sebuah hal yang sedang membawaku menuju sesuatu, Apakah semua manusia membuat kontrak tentang ajal mereka pada Malaikat Pencabut Nyawa? Jika tidak, kenapa aku melihat banyak hal yang pernah kuimpikan di masa kecilku itu? Satu per satu, kulihat misi dan isi kehidupanku diubah dari mimpi menjadi nyata. Kemudian jika semuanya sudah lengkap, dia akan menjemputku. Saat ini aku merasa seperti sudah tahu apa yang akan terjadi padaku kelak, tapi bagaimana dirimu? Setelah melewati batas usia yang sudah ditentukan, tentunya kau akan merasa terbodohi oleh mimpi kita semasa anak-anak, kan?

Seandainya surat ini benar-benar bisa sampai padamu dan kau bisa membalasnya tanpa harus menunggu selama 6 tahun, aku pasti akan bahagia. Jika kau benar masih bisa bernafas dan bisa merasakan debaran jantungmu, maka kau akan bisa membalas surat ini, kan? Meskipun tak akan ada yang membacanya karena saat itu aku yang berusia 20 tahun sudah tumbuh menjadi dirimu. Jadi, ceritakan padaku, apa saja yang terjadi selama kau berusia 25 tahun? Usia yang telah menjadi perjanjian kita dijemput oleh dewa kematian itu.

Kemudian ceritakan juga apa yang akan terjadi padaku di tahun-tahun mendatang, ya? Seperti yang bisa kaulihat di dalam ingatanmu, aku selalu berusaha mengubah masa depanku. Aku tak mau kematianku ditentukan oleh sebuah perjanjian. Memang sekarang aku menyesal sudah membuat keputusan yang bodoh, tapi kala itu aku hanya anak-anak. Apakah aku menyalahkan diriku yang kala itu masih kecil? Meskipun kini aku pontang-panting berusaha sekuat tenaga untuk menghindari garis takdir yang dia buat, aku akan tersenyum padanya dan menepuk kepala anak perempuan itu. Aku tak akan menyalahkannya. Berkat dia, aku memang menghadapi masalah-masalah yang kian rumit semakin usiaku bertambah, tapi aku akan membuktikan kekuatan dan keteguhanku padanya bahwa aku bisa mengatasinya. Dan kelak jika aku menjadi dirimu kelak di usia ke 26, aku akan bisa dengan bangga berkata pada anak perempuan itu di dalam diriku, “Lihat, berkat kau, aku kini menjadi seseorang yang kuat. Terima kasih, ya.”

Hari ini, aku sedang berlega hati walau tak sepenuhnya lega. Keberanianku dan tanggung jawabku baru saja diuji dan aku berhasil lulus dengan nilai sempurna (mungkin). Kau tidak mengulang masalah yang sama di masa depan, kan? Karena diriku di sini telah membuat komitmen untuk tidak melakukan kesalahan yang sama di masa-masa yang akan datang. Kesempatan ke dua yang dipercayakan padaku ini akan kugunakan dengan sebaik-baiknya.

Yang tersisa adalah masalah kepercayaan; yang kita berdua tahu, kepercayaan itu adalah sebuah hal yang sangat mudah dibangun, tapi sekali dihancurkan, merenovasinya tak akan semudah seperti saat pertama kali membangunnya. Lihatlah ke dalam ingatanmu dan carilah diriku di sana. Aku telah melunturkan kepercayaan banyak orang, termasuk orang tuaku sendiri. Kepada ayahku terutama, aku tak bisa menjadi seperti yang beliau harapkan. Aku tak bisa masuk ke perguruan tinggi yang lebih tinggi yang tersohor namanya dan mempelajari bidang yang sama dengan beliau untuk meneruskan ilmunya. Meskipun aku memiliki bakat untuk meneruskan beliau, tapi aku tidak ingin hidup di bawah bayang-bayang ayah. Kalau ayah mencintai demokrasi, maka ayah akan membiarkanku memilih masa depanku sendiri, bukan? Mungkin jalan pikiranku janggal, tapi aku hanyalah seorang anak yang masih akan menghadapi berbagai macam ujian dari Tuhan. Berapa kalipun aku mencoba memberitahu ayah bahwa aku bahagia menjalani jalan yang kupilih. Memang aku pemalas, tapi aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan ayah nantinya. Namun setiap kali memikirkan masa depanku, aku diliputi oleh keraguan. Aku berjalan sendirian, sok dewasa melepaskan pegangan dari sang ayah. Apakah nantinya aku akan berhasil? Kalau aku gagal, ayah akan kecewa luar biasa, kan? Dan pada saat itu, bukan hanya ayah yang akan menangis. Sungguh, baru membayangkannya saja, air mataku sekarang sudah berlinangan.

Hei, apa yang akan kau katakan padaku, diriku yang lain? Kau tentu sudah melihat apa yang kudapatkan di ujung jalanku. Apakah kau melihat cahaya di ujung terowongan, ataukah kau sedang terjerumus dalam terowongan buntu? Apakah kau sedang tertawa bahagia atau menangis sendirian di sana menyalahkan diriku yang selalu mengambil keputusan yang bodoh?

Selain meluluhkan kepercayaan, aku juga belajar menerima perasaan di mana kepercayaankulah yang dihancurkan.

Apakah arti dari kata ‘teman’ itu? Pada awalnya, temanku terlihat begitu memahami dan mendukungku. Tapi entah apa yang sudah terjadi padanya selama kita tak bertemu, ketika aku memandanginya aku merasa seperti memandang orang lain. Entah dia hanya mengakaliku atau apa, yang jelas, berkat bertemu kembali dengannya, aku nyaris terseret ke dalam arus kesesatan. Aku memiliki keyakinan yang ingin kupertahankan tentang agamaku, tentang Allah. Tapi keyakinan itu dia salah artikan dan dia berusaha mengubah pandanganku terhadap agamaku. Apapun alasan yang dia gunakan untuk membujukku, tak akan ada artinya lagi. Saat ini, aku tak ingin bertemu dengannya dengan alasan melindungi Islam yang kuanut.

Tapi mungkin ini belum seberapa dibanding apa yang sudah kaualami selama jeda 6 tahun di antara kita, ya? Dalam perbedaan waktu itu, pasti akan ada banyak sekali hal yang telah terjadi. Dan mungkin banyak di antaranya adalah jawaban dari keluhanku ini. Aku yang ada di sini, selalu mengharapkan kebaikan yang terbaik demi dirimu. Jadi, jangan khawatir. Walaupun sendirian, aku akan bisa melalui semua kesulitan ini maupun kesulitan yang sedang menungguku di masa-masa akan datang nanti. Meskipun aku akan merasa takut lagi, meski aku akan menangis lagi, meski aku akan berpura-pura menjadi kuat dan sok dewasa lagi, pada saatnya nanti aku akan lebur dan menjadi dirimu. Aku akan berjuang mengubah takdir, aku akan membuatmu ada. Aku mungkin terdengar banyak omong, tapi aku sungguh-sungguh ingin membuatmu ada!

Wahai diriku yang telah berusia 26 tahun, lihatlah aku melangkah ke sana.

10 Komentar »

  1. KangUsup Berkata:

    menarik :-)

    salam kenal

  2. salam kenal ya..

    ^^

    • miki-chan Berkata:

      salam knal~ : D

      • t. civil UII di jogja..

        klo km kul ato skul ato dah kerja.???

        ^^

      • miki-chan Berkata:

        wuis UII Jogja~ :D DD saia UNY Jogja~ kerja sambilan juga~

      • wes UNY..
        sama2 di Jogja..
        ^^
        ngambil jurusan apa.??

        btw dah semestar berapa..??

      • miki-chan Berkata:

        miki ambil pendidikan bahasa inggris~ sem 3; dirimu?

  3. bisnismurahs Berkata:

    SELAMAT AND SALAM KENAL


{ Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini} · { URI Lacak Balik }

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.