(based on my true story with modifications)
Siapa sih gadis yang tidak mendambakan datangnya cinta pertama? Cowok mana pula yang tidak mau menjadi cinta pertama seorang gadis? Lulu, begitulah nama gadis remaja yang baru saja mengenal cinta pertamanya di usia 17 tahun. Tapi di hari dia menjalani kencan pertamanya, cinta pertamanya harus berakhir saat itu juga.
Udara dingin sekali pagi ini. Angin tidak mau berhenti berhembus. Lulu merapatkan jaketnya dan menyimpan kedua tangannya di dalam sakunya. Di emperan peron stasiun, gadis berkuncir dua itu berdiri dikelilingi orang-orang yang juga menunggu kedatangan kereta kelas bisnis yang juga sama gelisahnya dengannya. Susah payah Lulu menahan aliran air matanya sampai bibirnya mengerucut.
“Lucu, seperti wajah anak-anak saja.” Lulu memberengut, sewot karena ia harus teringat dengan komentar ‘mantan’ pacarnya itu di kala ia baru saja harus putus dengannya. Padahal kencannya sudah jauh sampai ke Bandung, supaya bisa melihat suasana baru. Dasar!
Tidak ada pengumuman keterlambatan kereta, tapi penantian Lulu serasa lama sekali. Gadis itu menghembuskan nafas panjang. Headphone yang menyumbat telinganya memperdengarkan alunan lagu rock di MP3 player miliknya di dalam saku jaket, tergenggam oleh tangan kirinya. Menunduk, matanya jatuh pada bebatuan kerikil di antara besi-besi rel kereta yang nantinya akan menjadi jalurnya pulang kembali ke Yogyakarta. Dari awal Lulu tak ingin mengenang lagi masa lalu yang sejak tadi berkelebatan di ingatannya, makanya ia cuma menghitung kerikil-kerikil itu sambil berlagak seperti ilmuwan yang menghitung bintang di langit. Entah sejak kapan, gambaran kerikil itu mengabur dari matanya, tergantikan oleh kenangan-kenangan menyebalkan antara dia dan mantan pacarnya itu.
Siapa itu Lulu? Siapa itu Dini? Tak ada yang mengenal kedua pasangan itu sebelum keduanya asyik mojok di belakang pos satpam sekolah. Dini adalah seorang bintang sepak bola di SMA yang sama tempat Lulu bersekolah. Meski banyak digandrungi cewek-cewek, kala itu Dini hanya bisa relax kalau ada di samping Lulu. Dia sering menghabiskan waktu bersama gadis itu, bahkan menggunakan kesempatan mengantarkan Lulu ke bimbingan belajar dan menemaninya di sana hanya sebagai alasan. Dulu, cowok yang setahun lebih tua dari Lulu itu memang terkesan suka nempel sama Lulu. Tapi hal itu hanya membuat Lulu merasa tak enak hati. Gadis keras kepala itu merasa sebal sekaligus dibebani hutang budi. Apaan sih? Masa begitu saja merasa dibebani hutang budi? Kalian mungkin akan merasa lucu oleh jalan pikir Lulu, tapi apa sih yang bisa dipikirkan oleh Lulu saat itu, kalian tak akan bisa menebaknya.
Kesempatan bagi Lulu untuk membalas budi Dini akhirnya tiba. Lulu bersedia berbagi payung untuk melindungi keduanya berjalan ke halte bus demi melindungi Dini dari hujan ketika kondisi Dini sedang menurun. Dalam hati, Lulu sudah berkomitmen bahwa hutang budinya akan terbalas setelah ini. Dia tak akan rela berbaik hati lagi pada Dini yang sudah menggunakannya sebagai alat untuk melarikan diri. Huh, jangan kira Lulu tidak tahu, ya.
Namun apa yang terjadi keesokan harinya benar-benar di luar dugaan. Dini mengucapkannya, “Mau nggak jadi pacarku?”
Bakso yang ditusuk oleh garpu Lulu nyeliwur mengenai pipi tembem Lulu dan jatuh kembali ke mangkuknya. Selama sekian menit, Lulu mengamati wajah Dini yang memerah semakin lama ia menunggu jawaban Lulu keluar. Wtf, hanya itu yang melintas di kepala Lulu saat itu. Orang ini sudah salah tanggap tentang kebaikan hatinya!
Tapi Lulu menjawab, “Oke.” Dan sejak itulah mereka mengubah satus single mereka menjadi in relationship. Kalau ditanya, apakah Lulu benar-benar menyukai Dini? Kalau kau melihat wajah Lulu saat itu, kalian akan tahu bahwa Lulu tidak merasakan apa-apa di hatinya. Entahlah, Lulu mengira dia akan bisa mencintai Dini pada suatu hari nanti. Yah, dia hanya iri pada teman-temannya yang sudah berbangga hati menyandang status ‘pacaran’. Gadis kecil itu hanya ingin tahu bagaimana rasanya memiliki seorang pacar.
Hari-hari pertama ketika masih ‘anget-anget’nya, Dini tak bosan-bosannya mengirimi sms berisi puisi-puisi mesra ke handphone Lulu. Memang, isinya bagus-bagus dan kreatif, tapi itu saja tidak cukup untuk memanjakan Lulu yang tidak terbiasa dengan kalimat-kalimat rayuan. Ehem, bukannya tidak terbiasa, justru Lulu malah benci betul sama yang namanya rayuan itu. Hanya beberapa kali saja Lulu membalas sms Dini karena ia tak pandai merangkai kata-kata.
Namun berawal dari saling membalas rayuan itulah, di dalam tiap pesan yang terkirim lewat satelit itu, kata-kata rayuan berubah menjadi obrolan. Lulu sudah lupa, sejak kapan ia menelantarkan buku pelajaran di sekitar tempat tidurnya dan mulai menyandang handphone di samping kepalanya bahkan saat ia tidur. Perlahan tapi pasti, ada sebuah perasaan yang sedang tumbuh di dalam hati Lulu.
Sayangnya, kemunculan cinta Lulu bersamaan dengan menjauhnya jarak di antara Lulu dan Dini. Apa sebabnya? Dini sepertinya lebih nyaman berkomunikasi lewat sms daripada ketika mereka bertemu. Entah apa yang sebenarnya terjadi, Lulu tak bisa melengkapi puzzle di dalam kepalanya tanpa ada suara Dini. Namun Dini hanya diam, ia mungkin merasa bahwa Lulu bisa memahaminya tanpa ia harus mengatakannya. Bisakah Lulu? Tidak. Seorang gadis yang memeluk cinta di dadanya tak akan bisa semudah itu menebak, kan? Pikirannya telah digerogoti oleh sebuah kepercayaan semu: Dini tak mungkin begini dan Dini tak mungkin begitu.
Ya, mereka memang sering menghabiskan waktu bersama di balik pos satpam, yang berupa bagian dari kantin sekolah. Namun itu hanya sebatas obrolan sembari Lulu dijemput oleh ayahnya. Semua yang dialami oleh teman-temannya selama pacaran sama sekali tidak didapatkan Lulu. Kalau ada temannya yang bertanya sampai di mana hubungan mereka, Lulu tak pernah bisa menjawab. Dia hanya akan berpaling ke arah lain dan mengganti topik pembicaraan. Apa pertanyaan itu punya jawaban? Hubungan di antara mereka sama sekali tidak berkembang, hanya sebatas perasaan yang terus menumpuk dari hari ke hari. Tak tersampaikan.
“Kencan, yuk?” Di tempat mereka biasa nongkrong, Lulu dengan bloon menyampaikan ajakan itu pada Dini, yang hanya mengerjap kaget. Reaksi itu memanaskan tungku kemarahan Lulu, “Kenapa? Tidak mau, ya?”
“Ng, enggak, bukan gitu,” mata Dini berputar ke arah lain. Gelagat mencari alasan, Lulu tahu itu.
Dengan sebal, Lulu menghembuskan nafas dan Dini menyeret tangan Lulu, memanggilnya kembali. Kasar; begitulah persepsi Lulu pada semua cowok yang memaksakan kehendaknya. Wajah Dini memang memerah, namun dia juga menyiratkan sebuah keraguan yang ditepis dengan kenekatan, “Bandung! Ayo, ke Bandung!”
Walaupun pacarnya kala itu hanya memaksakan diri, Lulu tetap saja mengangguk. Entah badai apa yang membuatnya masih tetap berbaik hati menganggukkan kepalanya.
Kemudian berangkatlah mereka ke Kota Kembang itu. Sesaat mereka memang lupa dengan segalanya, suasana Bandung memberikan mereka semangat baru. Kota yang berbukit-bukit dan masih sejuk, seolah belum tersentuh dengan tangan manusia. Lulu menyukai kota itu.
“Kita putus saja ya?” Lulu akhirnya mengatakannya. Ironis, karena Lulu mengatakannya sambil tersenyum, menjadi bintang di puncak salah satu bukit di Bandung. Kepenatan yang selama ini menderanya setiap malam, akhirnya bisa diakhiri. Sudah cukup ia mengharapkan seseorang memikirkan, padahal ternyata orang yang diharapkan itu entah benar-benar selalu memikirkannya atau sekedar ingin menyandang gelar ‘pacaran’.
Dini tidak menjawabnya. Memandangnya pun tidak. Dia hanya berdiri, diam. Hei, cowok paling menyebalkan di dunia, kenapa kau diam saja? Apa sih yang selama ini kauharapkan selama menjadi seorang pacar? Apa hanya karena ingin menjadi pujangga cinta? Apakah hanya ingin mendapatkan seorang gadis, kemudian kau berpuas diri hanya dengan mendapatkannya? Lulu tertawa dalam hati. Ternyata, selama ini Lulu hanya menjadi ‘barang’ yang teronggok di dalam hatinya.
Lulu bahagia bisa lepas dari Dini, akhirnya. Tapi kebahagiaan itu bukan kebahagiaan yang manis, karena ia juga menangis.
Kereta menuju Yogyakarta akhirnya tiba. Para penumpang naik dengan teratur bergantian ke dalam gerbong. Sendirian, Lulu memanjat naik gerbong itu dan memasuki kompartemennya yang kosong. Tak ada siapa-siapa di sana. Tak ada orang yang menyertainya. Entah apa yang sedang dilakukan Dini sendirian mendinginkan kepala di Bandung ini. Lulu akan meninggalkannya. Biarlah separuh jiwanya ikut terbang ditelan angin, bila Dini tak menginginkannya. Sekalipun Dini hendak mengembalikannya, gadis itu akan berkeras kepala menolaknya. Belahan jiwa itu pernah ditempati oleh Dini. Lulu tak akan mau menerima bekas cowok tak berperasaan itu.
Lulu duduk sembari memandang keluar jendela. Tak ada air mata lagi yang jatuh. Lulu tak akan membiarkan setitikpun air mata menetes walaupun sekali lagi. Untuk apa menangisinya? Cowok macam dia tak patut ditangisi, kan?
Selamat tinggal, Dini. Ingatlah dalam hidupmu, kau pernah menjalin percintaan dengan gadis bernama Lulu ini. Tapi, kau juga tak bisa membahagiakannya. Kau menyakitinya, kau merampas separuh jiwanya. Jiwa Lulu tak akan bisa kembali lagi, tidak. Hanya waktu yang akan menentukan siapa Arjuna yang nanti akan bisa melengkapi jiwa yang terparuh itu.